ARTIKEL
“PEMILU
PEMILIHAN CALON KORUPTOR”
DOSEN
PENGAMPU : HJ. Megawati, SH. M.HUM
DI SUSUN OLEH :
Nama
: Ayu Rahmani Novita
NIM
: 1300004186
Kelas
: D
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FKIP
UNIVERSITAS AHMAD
DAHLAN
2014
Bicara tentang politik, rasanya tidak
jauh kaitannya dengan uang. Poltik dan uang bagaikan saudara satu keturunan.
Tentunya kita mengetahui jika kita ingin terjun ke dunia politik maka kita
harus menyiapkan banyak uang untuk itu. Sebut saja mengajukan diri sebagai
pemimpin bangsa seperti DPR, Walikota, Bupati, Gubernur, Presiden dan lain
sebagainya. Untuk menjadi pemimpin tersebut di butuhkan kerja keras, otak yang
cerdas, dan uang yang banyak tentunya. Tidak mungkin seorang pemulung akan
menjadi pemimpin karena tidak memiliki
banyak uang untuk melakukan hal tersebut. Dengan melalui peristiwa ini, maka
muncullah berbagai politik kotor seperti halnya korupsi. Para calon pemimpin
berlomba-lomba berbagi menghabiskan harta yang di milikinya demi sebuah
jabatan. Hingga akhirnya jikalau telah mendapatkan jabatan tersebut mulailah
politik kotor di jalankan. Rumusnya adalah harta yang telah banyak pergi
Cuma-Cuma maka harus kembali minimal modal bahkan harus kembali berlipat ganda.
9 April 2014 merupakan tanggal yang di
nanti-nanti oleh para Caleg. Pada tanggal ini berbagai perasaan campur aduk
menjadi satu bagaikan gado-gado di rasakan oleh para Caleg yang bersangkutan.
Harta maupun janji-janji telah di pertaruhkan kepada masyarakat. Sebagian besar
masyarakat memilih partai mana yang paling banyak menyumbangkan uang kepadanya.
Pendapat masyarakat dalam pemilu ini adalah “kebanyakan pemimpin sekarang hanya
mengobralkan janji-janjinya saja. Namun setelah jadi mereka melupakan kami.
Masing-masing dari mereka para pejabat sibuk untuk korupsi mengembalikan uang
yang telah mereka berikan. Kami hanya mengambil keuntungan dari mereka sebelum
mereka mengambil keuntungan dari kami”.
Berikut pernyataan yang saya kutip dari Kompas.com bahwa
salah satu kandidat calon presiden dari PKB sekaligus mantan Ketua MK, Mahfud
MD, dalam orasi kebangsaannya di Semarang, Minggu (21/3/2014) siang,
mengungkapkan bahwa para pemimpin yang lahir dari proses yang tidak sehat akan
melahirkan pemimpin yang tidak sehat. Sementara itu, transaksi politik hanya
akan mencetak pemimpin yang tidak amanah.
"Pemimpin yang lahir dari transaksi-transaksi politik tidak akan menerima kekuasaan sebagai amanah, tetapi sebagi fasilitas. Ini yang kemudian membuat tata kelola kenegaran kita menjadi salah," kata Mahfud di Aula IPHI Ungaran.
Mantan Ketua MK itu lantas membeberkan data dan fakta yang pernah dilansir oleh Kementerian Dalam Negeri bahwa dari 460 bupati/wali kota se-Indonesia, hampir dua pertiganya tersandung kasus korupsi. Angka itu menurutnya menjadi bukti nyata bahwa politik transaksional juga melahirkan pemimpin yang korup.
"Sebanyak 318 bupati dari 460 bupati se-Indonesia terlibat tindak pidana korupsi atau hampir dua pertiganya. Gubernur, 18 dari 36 juga terlibat korupsi. Tak terhitung lagi anggota DPR dan menteri," kata Mahfudz.
"Pemimpin yang lahir dari transaksi-transaksi politik tidak akan menerima kekuasaan sebagai amanah, tetapi sebagi fasilitas. Ini yang kemudian membuat tata kelola kenegaran kita menjadi salah," kata Mahfud di Aula IPHI Ungaran.
Mantan Ketua MK itu lantas membeberkan data dan fakta yang pernah dilansir oleh Kementerian Dalam Negeri bahwa dari 460 bupati/wali kota se-Indonesia, hampir dua pertiganya tersandung kasus korupsi. Angka itu menurutnya menjadi bukti nyata bahwa politik transaksional juga melahirkan pemimpin yang korup.
"Sebanyak 318 bupati dari 460 bupati se-Indonesia terlibat tindak pidana korupsi atau hampir dua pertiganya. Gubernur, 18 dari 36 juga terlibat korupsi. Tak terhitung lagi anggota DPR dan menteri," kata Mahfudz.
Dengan pernyataan tersebut, jelas bahwa Pemilu yang kita
lakukan selama ini merupakan pemilihan para calon koruptor. Sadar atau tidak
sadar mau tidak mau itulah hasil pemerintah yang telah di pilih oleh masyarakat
setempat pada Pemilu periode lalu. Nah, bagaimana dengan Pemilu yang kita
lakukan saat ini? Itupun juga tidak menutup kemungkinan pemimpin yang kita
pilih makin banyak lagi dari pada itu yang akan memakan uang Negara. Kenapa
saya mengatakan seperti itu, karena sebagaimana yang kita pantau selama ini
bahwa politik uang semakin bertambah banyak bahkan untuk kampanye politik pun
tiap individu harus di bayar hingga pelanggaran Kampanye seperti pembagian uang
kepada anak di bawah umur pun terjadi.
Kita hanya menunggu hasil pemilihan umum yang telah
berlangsung. Seberapa banyakkah lagi koruptor yang telah kita pilih
Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya
politik uang dalam pemilu, yaitu sebagai berikut :
A.lemahnya iman yang di miliki
seseoang
Indonesia sebenarnya termasuk Negara
yang menjunjung tinggi agama yang mengajarkan kejujuran seperti agama Islam. Pengaruh-pengaruh
yang datang dari luar membuat keimanannya pun tergoyah sehingga mampu melakukan
hal-hal yang tidak jujur. Apalagi bicara masalah uang membuat iman seseorang
pasti akan tergoyah karena melihat uang yang sangat banyak. Bagi sebagian orang
uang merupakan segalanya. Segala sesuatu bisa di beli dengan uang. Itulah yang
membuat iman mereka mudah tergoyah. Melihat kondisi dunia sekarang bila
melakukan apa-apa pasti harus dengan uang bahkan membuang hajat pun kita harus
membayar.
Bagaimana bisa para pejabat Negara
korupsi padahal gaji yang mereka miliki lebih dari cukup untuk menghidupi
kehidupannya. Itulah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang di
milikinya. Apapun yang dimiliki pasti masih menginginkan yang lain. Hal inilah
yang menyebabkan keimanan seseorang sangat mudah tergoyah. Di tambah lagi pemerintah
yang setiap hari bekerja nyata dengan uang di depan mata. Pencuri sebenarnya
tidak berniat untuk mencuri namun pencuri melakukan aksinya karena adanya
kesempatan.
Pemerintah dan masyarakat sama-sama
memiliki iman yang lemah. Pemerintah lemah iman karena kesempatan untuk korupsi
sangatlah mudah dan masyarakat pun juga mudah di suap dengan uang. Lihat saja kenyataan
pada pemilu sekarang yang masyarakatnya selalu menerima uang dari pihak partai
manapun yang memberikannya. Mereka tidak mungkin menolak karena tidak ada orang
yang memberikan uang secara Cuma-Cuma seperti hanya saat pemilu berlangsung.
Syaratnya pun hanya cukup mereka mendukung partai yang memberi sogokan. Jadi,
tidak ada pihak yang merasa di rugikan pada hal ini. Karena kedua belah pihak
sama-sam menguntungkan. Masyarakat mendapatkan uang dan Calegpun mendapatkan
suara. Bahkan yang beruntung di sini adalah Caleg. jika dia telah memenangkan
koalisi, uang yang telah di habiskan untuk menyogok akan tergantikan lagi
dengan cara korupsi uang Negara. Alhasil masyarakat biasa hanya bisa melihat
dan menghormatinya.
Saat-saat pemilu ini berlangsung pun
masih banyak keimanan yang tergoda karenanya. Seperti para Caleg yang tidak
lolos dalam pemilihan umum akan merasa sangat frustasi dan sebagian dari mereka
ada yang sampai masuk Rumah Sakit Jiwa karena sudah tidak tahan menanggung malu
maupun berfikir bagaimana cara mengembalikan uang yang sudah banyak di habiskan
olehnya hanya untuk Pemilu ini.
Masih banyak dari mereka yang
pengetahuan Agamanya masih sangat kurang. Kesenangan dunia lebih di utamakan
tanpa memikirkan siksaan di akhirat. Sebenarnya mereka sudah mengetahui
ganjaran yang akan di dapatkan jika melakukan korupsi tersebut. Namun, pesona
uang sangatlah kuat hingga kekhilafan pun terjadi.
Sedikit saya akan menyinggung era
kepemimpinan pada zaman Nabi. Di zaman itu, calon pemimpin di pilih langsung
oleh petinggi karena keimanan, etika, dan ilmu yang di milikinya. Bahkan
pemimpin yang telah di pilih merasa sangat terbebani oleh jabatannya karena
harus memikul tanggung jawab yang sangat besar.
Di
dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 73 mengatakan :
“Kami telah menjadikan mereka itu
sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah
kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah” (Q.S
Al-Anbiya:73).
Lihatlah kepemimpinan yang terjadi di
masa sekarang ini sangatlah berbanding terbalik dengan kepemimpinan di zaman
Nabi maupun kepemimpinan yang telah di perintahkan oleh Allah S.W.T sebagaimana
yang ada dalam surat tersebut.
Lemahnya agama yang dimiliki seseorangpun
bisa mengganggu keadaan psikis karena tidak mensyukuri dan mempercayai
pemberian Allah kepadanya. Mental seseorang dapat di ukur dari tingkatan
keimanan dan keyakinannya. Semakin tinggi iman dan kepercayaannya kepada Agama,
semakin kuat pula mental yang di milikinya untuk menghadapi sesuatu apapun
kecuali benar-benar kehendak yang maha kuasa.
Pada saat musim Pemilu lebih-lebih
mendekati pemilihan, saat inilah iman seseorang sangat mudah tergoyah. Berbagai
kepercayaan di percayainya termasuk tahayul dan musyrik. Ini pulalah yang
semakin membuat Allah murka kepadanya karena tidak sepenuhnya mempercayai dan
menerima ketentuan Allah S.W.T.
Di beritakan dalam salah satu media
online Kompas.com bahwa Keluarga dari caleg yang gagal dalam Pemilu 2014 mengaku
kesulitan mencari tempat untuk berobat karena RSUD setempat tidak menyediakan
ruang inap dan berobat jalan.
"Kesulitan membawa keluarga yang depresi setelah gagal pemilihan legislatif karena rumah sakit terdekat tidak menyediakan tempat untuk pengobatan mereka," kata Wahyu, salah seorang anggota keluarga dari caleg yang gagal pada Pemilu 2014.
Dia mengaku, keluarga terpaksa membawa caleg gagal ke paranormal hanya untuk menenangkan, meski keluarga repot menjaga caleg gagal tersebut.
Mestinya, kata Wahyu, RSU Gunungjati, Cirebon, menyediakan tempat layanan bagi caleg depresi karena jika mereka harus berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, butuh biaya tinggi. Selain itu, jaraknya cukup jauh.
Ahmad, anggota keluarga dari caleg gagal lain, mengaku butuh tempat layanan untuk para caleg yang mengalami depresi karena kurang puas dengan layanan ketika berobat di paranormal.
Sementara itu, pemilik Padepokan Al-Busthomi, Ustaz Ujang Busthomi, mengaku, para caleg gagal yang mengalami depresi sudah mulai berdatangan. Mereka butuh pengobatan untuk mengembalikan kesehatan jiwanya setelah kalah dalam Pemilu Legislatif 2014.
"Caleg gagal yang mengalami depresi bervariasi, mulai tingkat emosionalnya rendah, hingga butuh perawatan khusus untuk menenangkan mereka, sehingga bisa kembali normal untuk mengendalikan dirinya," katanya.
"Kesulitan membawa keluarga yang depresi setelah gagal pemilihan legislatif karena rumah sakit terdekat tidak menyediakan tempat untuk pengobatan mereka," kata Wahyu, salah seorang anggota keluarga dari caleg yang gagal pada Pemilu 2014.
Dia mengaku, keluarga terpaksa membawa caleg gagal ke paranormal hanya untuk menenangkan, meski keluarga repot menjaga caleg gagal tersebut.
Mestinya, kata Wahyu, RSU Gunungjati, Cirebon, menyediakan tempat layanan bagi caleg depresi karena jika mereka harus berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, butuh biaya tinggi. Selain itu, jaraknya cukup jauh.
Ahmad, anggota keluarga dari caleg gagal lain, mengaku butuh tempat layanan untuk para caleg yang mengalami depresi karena kurang puas dengan layanan ketika berobat di paranormal.
Sementara itu, pemilik Padepokan Al-Busthomi, Ustaz Ujang Busthomi, mengaku, para caleg gagal yang mengalami depresi sudah mulai berdatangan. Mereka butuh pengobatan untuk mengembalikan kesehatan jiwanya setelah kalah dalam Pemilu Legislatif 2014.
"Caleg gagal yang mengalami depresi bervariasi, mulai tingkat emosionalnya rendah, hingga butuh perawatan khusus untuk menenangkan mereka, sehingga bisa kembali normal untuk mengendalikan dirinya," katanya.
Ini semua merupakan bentuk kurangnya
iman yang dimiliki. Seharusnya, calon pemimpin itu adalah seseorang yang kuat,
tabah, memiliki iman dan taqwa sehingga berani menerima resiko bahwa tidak
semua akan menang. Beruntunglah kita tidak memilih dan mendapati pemimpin
seperti mereka yang telah depresi. Itu merupakan cara Allah memperingatkan kita
untuk menerima apa yang telah di kehendaki olehnya.
B.Kurangnya Pendidikan
Pendidikan menjadi hal yang sangat
penting bagi semua orang. Seseorang yang kurang berpendidikan akan tertindas
oleh orang lain yang lebih berpendidikan. Salah satu penyebab terjadinya
kesalahan memilih adalah kurangnya pendidikan yang di miliki. Banyak masyarakat
ketika memilih calon pemimpin yang tidak di ketahui bibit, bebet dan bobotnya. Parahnya
lagi, sebagian dari mereka tidak mengetahui siapa saja calon pemimpin yang akan
di pilih. Semua ini tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah setempat yang
kurang merealisasikan informasi para calon legislative maupun para Caleg
sendiri yang kurang melakukan komunikasi terhadap masyarakat setempat.
Kurangnya pengetahuan, moral, serta etika terlihat langsung pada kasus ini.
Pemimpin masyarakat seharusnya melayani masyarakat, bukan untuk di layani oleh
masyarakat. Untuk menjadi calon pemimpin bukan hanya sekedar memberi dana tapi
juga mempelajari cara-cara untuk berkomunikasi dengan baik dan benar karena
jika kelak sudah menjadi pemimpin maka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Namun,
ada pula Caleg yang pintar cari muka di depan umum hanya pada saat mencalonkan
diri ingin ikut dan selalu memantau warga setempat. Jika telah sampai titik
akhir pencapainnya, semua sandiwara itu akan di tinggalkan.
Hal yang cukup mengenaskan pun terjadi
di beberapa daerah karena money politik yang selama ini telah berlangsung. Contohnya
seperti hasil informasi yang di beritakan oleh Kompas.com berikut ini.
Panitia renovasi Masjid Al Aqsha di Desa Riso, Kecamatan
Tapango, Polewali Mandar, kebingungan lantaran harus mengembalikan uang
sumbangan dari sejumlah calon anggota legislatif yang diduga gagal. Padahal,
uang tersebut sudah masuk ke kas masjid dan diumumkan ke publik.
Muhammad Daming, bendahara Masjid Al Aqsha, mengaku pihaknya menerima sumbangan dari sejumlah caleg dengan total Rp 7,5 juta. Namun setelah pemungutan suara pada 9 April kemarin, tiba-tiba sejumlah caleg meminta agar uang sumbangan itu dikembalikan.
"Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali," ujar Muhammad Daming kepada Kompas.com, Jumat (11/4/2014).
Menurut Daming, kendati sumbangan tersebut telah dialokasikan untuk renovasi Masjid Al Aqsha yang kini tengah berjalan, pihaknya siap mengembalikan uang tersebut.
"Hanya saja syaratnya, saat pengembalian, semua pengurus masjid, tim sukses, dan caleg bersangkutan duduk satu lokasi agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari," ucap Daming.
Rekan Daming yang juga panitia renovasi masjid, Yadi, mengaku heran, dana sumbangan yang semula diberikan sang caleg sebelum pemilu dengan alasan ikhlas membantu renovasi, belakangan ternyata diminta kembali.
Yadi bingung dan tak mengerti, apa alasan sang caleg meminta sumbangannya dikembalikan.
“Kalau ikhlas menyumbang ke masjid, mestinya tak diminta kembali. Kan sudah disumbangkan dan diumumkan secara terbuka,” kata Yadi.
Baik Muhammad Daming maupun Yadi menyatakan sepakat mengembalikan sumbangan dengan pamrih tersebut kepada sejumlah caleg. Menurut mereka, sejumlah pengurus masjid lainnya pun merasa malu dengan ulah para caleg tersebut.
Muhammad Daming, bendahara Masjid Al Aqsha, mengaku pihaknya menerima sumbangan dari sejumlah caleg dengan total Rp 7,5 juta. Namun setelah pemungutan suara pada 9 April kemarin, tiba-tiba sejumlah caleg meminta agar uang sumbangan itu dikembalikan.
"Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali," ujar Muhammad Daming kepada Kompas.com, Jumat (11/4/2014).
Menurut Daming, kendati sumbangan tersebut telah dialokasikan untuk renovasi Masjid Al Aqsha yang kini tengah berjalan, pihaknya siap mengembalikan uang tersebut.
"Hanya saja syaratnya, saat pengembalian, semua pengurus masjid, tim sukses, dan caleg bersangkutan duduk satu lokasi agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari," ucap Daming.
Rekan Daming yang juga panitia renovasi masjid, Yadi, mengaku heran, dana sumbangan yang semula diberikan sang caleg sebelum pemilu dengan alasan ikhlas membantu renovasi, belakangan ternyata diminta kembali.
Yadi bingung dan tak mengerti, apa alasan sang caleg meminta sumbangannya dikembalikan.
“Kalau ikhlas menyumbang ke masjid, mestinya tak diminta kembali. Kan sudah disumbangkan dan diumumkan secara terbuka,” kata Yadi.
Baik Muhammad Daming maupun Yadi menyatakan sepakat mengembalikan sumbangan dengan pamrih tersebut kepada sejumlah caleg. Menurut mereka, sejumlah pengurus masjid lainnya pun merasa malu dengan ulah para caleg tersebut.
Sungguh kenyataan yang
sangat jelas politik yang di mainkan oleh para calon pemimpin bangsa. Hal
memalukan apalagi yang akan di lakukan oleh mereka. Wawasan yang dimiliki
sangatlah terbatas hingga melakukan hal bodoh semacam itu. Sandiwara-sandiwara
politik pu sekarang mulai di ketahui kedoknya hanya ingin menjadi calon
pemimpin yang di pandang dan mendapatkan kembali sejumlah pengeluaran yang di
korbankannya.
Jika mereka memiliki
wawasan pendidikan yang cukup bagus, maka akan berfikir rasional sebelum
melakukan tindakan gegabah. Pemilu bukanlah ajang bisnis yang tergantung
keberuntungan jika menang mendapat laba dan jika kalah mendapat rugi. Seakan
mereka mempermainkan Indonesia dengan politik-politi semacam ini yang justru
akan sangat merusak repotasi Negara. Ulah mereka lah yang membuat Indonesia
terkenal sebagai Negara koruptor.
Oleh karena itu, marilah
kita memilih calon pemimpin yang bibit, bebet dan bobotnya berkualitas. Sebagai
pemilih, bukan hanya sekedar mencoblos tetapi mengetahui atau mencari tau mana
yang akan benar-benar memperhatikan dan memajukan Negara kita. Rakyat bukan untuk pemerintah tapi pemerintah untuk
rakyat. Seperti semboyan Demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Pesan : wahai engkau para calon pemimpin, janganlah kamu bermain
api dengan mempermainkan kami dengan uangmu yang tak ternilai harganya jika di
hargai dengan hati nurani. Karena kelak engkau pula yang akan mendapat balasan
atas perbuatanmu. Berhati-hatilah untuk jadi pemimpin dan jika belum siap
jangan kau ambil kesempatan itu untuk kamu memanfaatkan orang lain demi
kepentinganmu sendiri. Tanpa kami kau bukanlah apa-apa. Bergegaslah menjalani
kewajiban yang telah engkau plilih. Pergi dan lihatlah ke bawah. ( Ayu Rahmani Novita)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar