Jumat, 09 Mei 2014

TUGAS ARTIKEL TENTANG PEMILU


ARTIKEL
“PEMILU PEMILIHAN CALON KORUPTOR”
DOSEN PENGAMPU : HJ. Megawati, SH. M.HUM






DI SUSUN OLEH :

Nama : Ayu Rahmani Novita
NIM : 1300004186
Kelas : D

PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FKIP 
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2014


Bicara tentang politik, rasanya tidak jauh kaitannya dengan uang. Poltik dan uang bagaikan saudara satu keturunan. Tentunya kita mengetahui jika kita ingin terjun ke dunia politik maka kita harus menyiapkan banyak uang untuk itu. Sebut saja mengajukan diri sebagai pemimpin bangsa seperti DPR, Walikota, Bupati, Gubernur, Presiden dan lain sebagainya. Untuk menjadi pemimpin tersebut di butuhkan kerja keras, otak yang cerdas, dan uang yang banyak tentunya. Tidak mungkin seorang pemulung akan menjadi pemimpin karena  tidak memiliki banyak uang untuk melakukan hal tersebut. Dengan melalui peristiwa ini, maka muncullah berbagai politik kotor seperti halnya korupsi. Para calon pemimpin berlomba-lomba berbagi menghabiskan harta yang di milikinya demi sebuah jabatan. Hingga akhirnya jikalau telah mendapatkan jabatan tersebut mulailah politik kotor di jalankan. Rumusnya adalah harta yang telah banyak pergi Cuma-Cuma maka harus kembali minimal modal bahkan harus kembali berlipat ganda.
9 April 2014 merupakan tanggal yang di nanti-nanti oleh para Caleg. Pada tanggal ini berbagai perasaan campur aduk menjadi satu bagaikan gado-gado di rasakan oleh para Caleg yang bersangkutan. Harta maupun janji-janji telah di pertaruhkan kepada masyarakat. Sebagian besar masyarakat memilih partai mana yang paling banyak menyumbangkan uang kepadanya. Pendapat masyarakat dalam pemilu ini adalah “kebanyakan pemimpin sekarang hanya mengobralkan janji-janjinya saja. Namun setelah jadi mereka melupakan kami. Masing-masing dari mereka para pejabat sibuk untuk korupsi mengembalikan uang yang telah mereka berikan. Kami hanya mengambil keuntungan dari mereka sebelum mereka mengambil keuntungan dari kami”.
Berikut pernyataan yang saya kutip dari Kompas.com bahwa salah satu kandidat calon presiden dari PKB sekaligus mantan Ketua MK, Mahfud MD, dalam orasi kebangsaannya di Semarang, Minggu (21/3/2014) siang, mengungkapkan bahwa para pemimpin yang lahir dari proses yang tidak sehat akan melahirkan pemimpin yang tidak sehat. Sementara itu, transaksi politik hanya akan mencetak pemimpin yang tidak amanah.

"Pemimpin yang lahir dari transaksi-transaksi politik tidak akan menerima kekuasaan sebagai amanah, tetapi sebagi fasilitas. Ini yang kemudian membuat tata kelola kenegaran kita menjadi salah," kata Mahfud di Aula IPHI Ungaran.
Mantan Ketua MK itu lantas membeberkan data dan fakta yang pernah dilansir oleh Kementerian Dalam Negeri bahwa dari 460 bupati/wali kota se-Indonesia, hampir dua pertiganya tersandung kasus korupsi. Angka itu menurutnya menjadi bukti nyata bahwa politik transaksional juga melahirkan pemimpin yang korup.
"Sebanyak 318 bupati dari 460 bupati se-Indonesia terlibat tindak pidana korupsi atau hampir dua pertiganya. Gubernur, 18 dari 36 juga terlibat korupsi. Tak terhitung lagi anggota DPR dan menteri," kata Mahfudz.
Dengan pernyataan tersebut, jelas bahwa Pemilu yang kita lakukan selama ini merupakan pemilihan para calon koruptor. Sadar atau tidak sadar mau tidak mau itulah hasil pemerintah yang telah di pilih oleh masyarakat setempat pada Pemilu periode lalu. Nah, bagaimana dengan Pemilu yang kita lakukan saat ini? Itupun juga tidak menutup kemungkinan pemimpin yang kita pilih makin banyak lagi dari pada itu yang akan memakan uang Negara. Kenapa saya mengatakan seperti itu, karena sebagaimana yang kita pantau selama ini bahwa politik uang semakin bertambah banyak bahkan untuk kampanye politik pun tiap individu harus di bayar hingga pelanggaran Kampanye seperti pembagian uang kepada anak di bawah umur pun terjadi.
Kita hanya menunggu hasil pemilihan umum yang telah berlangsung. Seberapa banyakkah lagi koruptor yang telah kita pilih
Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya politik uang dalam pemilu, yaitu sebagai berikut :
A.lemahnya iman yang di miliki seseoang
Indonesia sebenarnya termasuk Negara yang menjunjung tinggi agama yang mengajarkan kejujuran seperti agama Islam. Pengaruh-pengaruh yang datang dari luar membuat keimanannya pun tergoyah sehingga mampu melakukan hal-hal yang tidak jujur. Apalagi bicara masalah uang membuat iman seseorang pasti akan tergoyah karena melihat uang yang sangat banyak. Bagi sebagian orang uang merupakan segalanya. Segala sesuatu bisa di beli dengan uang. Itulah yang membuat iman mereka mudah tergoyah. Melihat kondisi dunia sekarang bila melakukan apa-apa pasti harus dengan uang bahkan membuang hajat pun kita harus membayar.
Bagaimana bisa para pejabat Negara korupsi padahal gaji yang mereka miliki lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupannya. Itulah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang di milikinya. Apapun yang dimiliki pasti masih menginginkan yang lain. Hal inilah yang menyebabkan keimanan seseorang sangat mudah tergoyah. Di tambah lagi pemerintah yang setiap hari bekerja nyata dengan uang di depan mata. Pencuri sebenarnya tidak berniat untuk mencuri namun pencuri melakukan aksinya karena adanya kesempatan.
Pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki iman yang lemah. Pemerintah lemah iman karena kesempatan untuk korupsi sangatlah mudah dan masyarakat pun juga mudah di suap dengan uang. Lihat saja kenyataan pada pemilu sekarang yang masyarakatnya selalu menerima uang dari pihak partai manapun yang memberikannya. Mereka tidak mungkin menolak karena tidak ada orang yang memberikan uang secara Cuma-Cuma seperti hanya saat pemilu berlangsung. Syaratnya pun hanya cukup mereka mendukung partai yang memberi sogokan. Jadi, tidak ada pihak yang merasa di rugikan pada hal ini. Karena kedua belah pihak sama-sam menguntungkan. Masyarakat mendapatkan uang dan Calegpun mendapatkan suara. Bahkan yang beruntung di sini adalah Caleg. jika dia telah memenangkan koalisi, uang yang telah di habiskan untuk menyogok akan tergantikan lagi dengan cara korupsi uang Negara. Alhasil masyarakat biasa hanya bisa melihat dan menghormatinya.
Saat-saat pemilu ini berlangsung pun masih banyak keimanan yang tergoda karenanya. Seperti para Caleg yang tidak lolos dalam pemilihan umum akan merasa sangat frustasi dan sebagian dari mereka ada yang sampai masuk Rumah Sakit Jiwa karena sudah tidak tahan menanggung malu maupun berfikir bagaimana cara mengembalikan uang yang sudah banyak di habiskan olehnya hanya untuk Pemilu ini.
Masih banyak dari mereka yang pengetahuan Agamanya masih sangat kurang. Kesenangan dunia lebih di utamakan tanpa memikirkan siksaan di akhirat. Sebenarnya mereka sudah mengetahui ganjaran yang akan di dapatkan jika melakukan korupsi tersebut. Namun, pesona uang sangatlah kuat hingga kekhilafan pun terjadi.
Sedikit saya akan menyinggung era kepemimpinan pada zaman Nabi. Di zaman itu, calon pemimpin di pilih langsung oleh petinggi karena keimanan, etika, dan ilmu yang di milikinya. Bahkan pemimpin yang telah di pilih merasa sangat terbebani oleh jabatannya karena harus memikul tanggung jawab yang sangat besar.
Di dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 73 mengatakan :
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah” (Q.S Al-Anbiya:73).
Lihatlah kepemimpinan yang terjadi di masa sekarang ini sangatlah berbanding terbalik dengan kepemimpinan di zaman Nabi maupun kepemimpinan yang telah di perintahkan oleh Allah S.W.T sebagaimana yang ada dalam surat tersebut.
Lemahnya agama yang dimiliki seseorangpun bisa mengganggu keadaan psikis karena tidak mensyukuri dan mempercayai pemberian Allah kepadanya. Mental seseorang dapat di ukur dari tingkatan keimanan dan keyakinannya. Semakin tinggi iman dan kepercayaannya kepada Agama, semakin kuat pula mental yang di milikinya untuk menghadapi sesuatu apapun kecuali benar-benar kehendak yang maha kuasa.
Pada saat musim Pemilu lebih-lebih mendekati pemilihan, saat inilah iman seseorang sangat mudah tergoyah. Berbagai kepercayaan di percayainya termasuk tahayul dan musyrik. Ini pulalah yang semakin membuat Allah murka kepadanya karena tidak sepenuhnya mempercayai dan menerima ketentuan Allah S.W.T.  
Di beritakan dalam salah satu media online Kompas.com bahwa Keluarga dari caleg yang gagal dalam Pemilu 2014 mengaku kesulitan mencari tempat untuk berobat karena RSUD setempat tidak menyediakan ruang inap dan berobat jalan.
"Kesulitan membawa keluarga yang depresi setelah gagal pemilihan legislatif karena rumah sakit terdekat tidak menyediakan tempat untuk pengobatan mereka," kata Wahyu, salah seorang anggota keluarga dari caleg yang gagal pada Pemilu 2014.
Dia mengaku, keluarga terpaksa membawa caleg gagal ke paranormal hanya untuk menenangkan, meski keluarga repot menjaga caleg gagal tersebut.
Mestinya, kata Wahyu, RSU Gunungjati, Cirebon, menyediakan tempat layanan bagi caleg depresi karena jika mereka harus berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, butuh biaya tinggi. Selain itu, jaraknya cukup jauh.
Ahmad, anggota keluarga dari caleg gagal lain, mengaku butuh tempat layanan untuk para caleg yang mengalami depresi karena kurang puas dengan layanan ketika berobat di paranormal.
Sementara itu, pemilik Padepokan Al-Busthomi, Ustaz Ujang Busthomi, mengaku, para caleg gagal yang mengalami depresi sudah mulai berdatangan. Mereka butuh pengobatan untuk mengembalikan kesehatan jiwanya setelah kalah dalam Pemilu Legislatif 2014.
"Caleg gagal yang mengalami depresi bervariasi, mulai tingkat emosionalnya rendah, hingga butuh perawatan khusus untuk menenangkan mereka, sehingga bisa kembali normal untuk mengendalikan dirinya," katanya.
Ini semua merupakan bentuk kurangnya iman yang dimiliki. Seharusnya, calon pemimpin itu adalah seseorang yang kuat, tabah, memiliki iman dan taqwa sehingga berani menerima resiko bahwa tidak semua akan menang. Beruntunglah kita tidak memilih dan mendapati pemimpin seperti mereka yang telah depresi. Itu merupakan cara Allah memperingatkan kita untuk menerima apa yang telah di kehendaki olehnya.
B.Kurangnya Pendidikan
Pendidikan menjadi hal yang sangat penting bagi semua orang. Seseorang yang kurang berpendidikan akan tertindas oleh orang lain yang lebih berpendidikan. Salah satu penyebab terjadinya kesalahan memilih adalah kurangnya pendidikan yang di miliki. Banyak masyarakat ketika memilih calon pemimpin yang tidak di ketahui bibit, bebet dan bobotnya. Parahnya lagi, sebagian dari mereka tidak mengetahui siapa saja calon pemimpin yang akan di pilih. Semua ini tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah setempat yang kurang merealisasikan informasi para calon legislative maupun para Caleg sendiri yang kurang melakukan komunikasi terhadap masyarakat setempat. Kurangnya pengetahuan, moral, serta etika terlihat langsung pada kasus ini. Pemimpin masyarakat seharusnya melayani masyarakat, bukan untuk di layani oleh masyarakat. Untuk menjadi calon pemimpin bukan hanya sekedar memberi dana tapi juga mempelajari cara-cara untuk berkomunikasi dengan baik dan benar karena jika kelak sudah menjadi pemimpin maka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Namun, ada pula Caleg yang pintar cari muka di depan umum hanya pada saat mencalonkan diri ingin ikut dan selalu memantau warga setempat. Jika telah sampai titik akhir pencapainnya, semua sandiwara itu akan di tinggalkan.
Hal yang cukup mengenaskan pun terjadi di beberapa daerah karena money politik yang selama ini telah berlangsung. Contohnya seperti hasil informasi yang di beritakan oleh Kompas.com berikut ini.
Panitia renovasi Masjid Al Aqsha di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, kebingungan lantaran harus mengembalikan uang sumbangan dari sejumlah calon anggota legislatif yang diduga gagal. Padahal, uang tersebut sudah masuk ke kas masjid dan diumumkan ke publik.
Muhammad Daming, bendahara Masjid Al Aqsha, mengaku pihaknya menerima sumbangan dari sejumlah caleg dengan total Rp 7,5 juta. Namun setelah pemungutan suara pada 9 April kemarin, tiba-tiba sejumlah caleg meminta agar uang sumbangan itu dikembalikan.
"Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali," ujar Muhammad Daming kepada Kompas.com, Jumat (11/4/2014).
Menurut Daming, kendati sumbangan tersebut telah dialokasikan untuk renovasi Masjid Al Aqsha yang kini tengah berjalan, pihaknya siap mengembalikan uang tersebut.
"Hanya saja syaratnya, saat pengembalian, semua pengurus masjid, tim sukses, dan caleg bersangkutan duduk satu lokasi agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari," ucap Daming.
Rekan Daming yang juga panitia renovasi masjid, Yadi, mengaku heran, dana sumbangan yang semula diberikan sang caleg sebelum pemilu dengan alasan ikhlas membantu renovasi, belakangan ternyata diminta kembali.
Yadi bingung dan tak mengerti, apa alasan sang caleg meminta sumbangannya dikembalikan.
“Kalau ikhlas menyumbang ke masjid, mestinya tak diminta kembali. Kan sudah disumbangkan dan diumumkan secara terbuka,” kata Yadi.
Baik Muhammad Daming maupun Yadi menyatakan sepakat mengembalikan sumbangan dengan pamrih tersebut kepada sejumlah caleg. Menurut mereka, sejumlah pengurus masjid lainnya pun merasa malu dengan ulah para caleg tersebut.
Sungguh kenyataan yang sangat jelas politik yang di mainkan oleh para calon pemimpin bangsa. Hal memalukan apalagi yang akan di lakukan oleh mereka. Wawasan yang dimiliki sangatlah terbatas hingga melakukan hal bodoh semacam itu. Sandiwara-sandiwara politik pu sekarang mulai di ketahui kedoknya hanya ingin menjadi calon pemimpin yang di pandang dan mendapatkan kembali sejumlah pengeluaran yang di korbankannya.
Jika mereka memiliki wawasan pendidikan yang cukup bagus, maka akan berfikir rasional sebelum melakukan tindakan gegabah. Pemilu bukanlah ajang bisnis yang tergantung keberuntungan jika menang mendapat laba dan jika kalah mendapat rugi. Seakan mereka mempermainkan Indonesia dengan politik-politi semacam ini yang justru akan sangat merusak repotasi Negara. Ulah mereka lah yang membuat Indonesia terkenal sebagai Negara koruptor.
Oleh karena itu, marilah kita memilih calon pemimpin yang bibit, bebet dan bobotnya berkualitas. Sebagai pemilih, bukan hanya sekedar mencoblos tetapi mengetahui atau mencari tau mana yang akan benar-benar memperhatikan dan memajukan Negara kita. Rakyat  bukan untuk pemerintah tapi pemerintah untuk rakyat. Seperti semboyan Demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Pesan : wahai engkau para calon pemimpin, janganlah kamu bermain api dengan mempermainkan kami dengan uangmu yang tak ternilai harganya jika di hargai dengan hati nurani. Karena kelak engkau pula yang akan mendapat balasan atas perbuatanmu. Berhati-hatilah untuk jadi pemimpin dan jika belum siap jangan kau ambil kesempatan itu untuk kamu memanfaatkan orang lain demi kepentinganmu sendiri. Tanpa kami kau bukanlah apa-apa. Bergegaslah menjalani kewajiban yang telah engkau plilih. Pergi dan lihatlah ke bawah. ( Ayu Rahmani Novita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar